Merkurius: Planet terkecil di Tata Surya
Merkurius hanya bisa terlihat pada saat subuh atau maghrib. Merkurius
tidak mempunyai satelit alami, dan juga tidak memiliki atmosfir. Planet
Merkurius merupakan planet terkecil dalam tata surya
dengan diameter 4.878 km. Waktu yang diperlukan planet Merkurius untuk
mengelilingi matahari (revolusi) satu kali putaran lamanya 88 hari.
Rotasinya sangat lambat karena dekat dengan matahari sehingga planet
tersebut hanya membuat tiga putaran penuh selama dua kali berevolusi
mengelilingi matahari. Inilah mengapa salah satu sisi Merkurius sangat
panas sedangkan sisi lainnya sangat dingin. Suhunya mencapai 4300°C pada
bagian yang menghadap matahari, dan -2200°C di bagian yang membelakangi
matahari. Perbedaan suhu yang demikian besar disebabkan Merkurius tidak
memiliki atmosfer.
Venus: Matahari Muncul di Barat dan Terbenam di Timur
Venus adalah
planet bercahaya yang sangat terang. Karena itu dijuluki Bintang
Kejora. Venus juga disebut bintang fajar dan bintang senja, karena
planet itu tampak di sebelah timur ketika pagi dan di sebelah barat
ketika senja. Venus juga disebut planet putih karena cahayanya yang
putih. Venus hampir sama besarnya dengan bumi.
Arah rotasi Venus berlawanan dengan arah rotasi planet-planet lain,
sehingga matahari di sana terbit di barat dan terbenam di timur. Selain
itu, jangka waktu rotasi Venus lebih lama daripada jangka waktu
revolusinya dalam mengelilingi matahari.
Kandungan atmosfernya yang pekat dengan CO2 menyebabkan suhu
permukaannya sangat tinggi akibat efek rumah kaca. Atmosfer Venus tebal
dan selalu diselubungi oleh awan. Inilah yang menyebabkan planet Venus sebagai planet yang paling panas di tata surya dengan suhu 462°C. Venus juga merupakan planet yang tidak memiliki satelit.
Venus
hanya tampak seperti bintang yang sangat terang di langit, tapi jika
Anda bisa melihatnya dengan teleskop, maka Anda akan dapat melihat bahwa
Venus melewati beberapa tahapan penampakan, seperti Bulan. Ketika Venus mendekat ia akan seperti bulan sabit tipis, ketika Venus menjauh ia akan berbentuk lingkaran.
Bumi: Planet yang Mendukung Kehidupan
Bumi termasuk sebagai planet kebumian,
yang artinya terbuat dari batuan, seperti halnya Merkurius, Venus,
Bumi, dan Mars, berbeda dibandingkan gas raksasa seperti Jupiter. Planet
Bumi adalah yang terbesar dari empat planet kebumian, baik massa maupun
ukuran. Dari keempat planet kebumian, bumi juga memiliki kepadatan
tertinggi, gravitasi permukaan terbesar, medan magnet terkuat dan rotasi
paling cepat. Bumi juga merupakan satu-satunya planet kebumian yang
memiliki lempeng tektonik yang aktif. Bumi mempunyai lapisan udara
(atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung
permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraviolet dan radiasi dari
luar angkasa. Planet Bumi adalah satu-satunya planet yang mendukung kehidupan.
Mars: Wajah Manusia di Dataran planet Mars
Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, dan Valles
Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara
terdapat cekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars.
Di
planet Mars, terdapat sebuah fitur unik di daerah Cydonia Mensae. Fitur
ini merupakan sebuah perbukitan yang bila dilihat dari atas nampak sebagai sebuah wajah manusia.
Banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah bukti dari peradaban
yang telah lama musnah di Mars, walaupun di masa kini, telah terbukti
bahwa fitur tersebut hanyalah sebuah kenampakan alam biasa.
Yupiter: Planet dengan Badai Terhebat
Inilah planet terbesar di tatasurya kita, Yupiter. Planet ini besarnya sekitar 318 kali Bumi. Jupiter memiliki 63 satelit. Sebuah planet gas tanpa daratan. SEMUANYA BERBENTUK GAS dengan suhu yang sangat dingin.
Yupiter memiliki bintik merah besar atau disebut juga The Great Red Spot,
ini adalah topan seperti badai yang dapat melanda daerah yang
panjangnya 40.000 km dan lebarnya 4000 km. Angin badai ini berlangsung
selama ratusan tahun.
Yupiter memiliki cincin yang sangat tipis, berwarna hampir sama dengan
atmosfernya dan sedikit memantulkan cahaya matahari. Cincin Yupiter
terbentuk atas materi yang gelap kemerah-merahan. Materi pembentuknya
bukanlah dari es seperti Saturnus melainkan ialah batuan dan
pecahan-pecahan debu. Setelah diteliti, cincin Yupiter merupakan hasil
dari gagal terbentuknya satelit Yupiter.
Saturnus: Planet yang Lebih Ringan daripada Air
Saturnus adalah sebuah planet di tata surya yang dikenal juga sebagai
planet bercincin, dan merupakan planet terbesar kedua di tata surya
setelah Jupiter. Saturnus juga berotasi dalam waktu yang sangat singkat,
yaitu 10 jam 14 menit. Cincin Saturnus sangat unik, terdiri beribu-ribu
cincin yang mengelilingi planet ini. Bahan pembentuk cincin ini masih
belum diketahui. Sejauh ini, diperkirakan yang paling mungkin membentuk
cincin-cincin itu adalah bongkahan-bongkahan es meteorit.
Saturnus memiliki kerapatan/massa jenis yang rendah karena sebagian
besar zat penyusunnya berupa gas dan cairan. Di antara planet-planet di
tata surya, planet Saturnus adalah satu-satunya planet yang massa
jenisnya lebih ringan daripada air. Sebagai hasilnya, jika Saturnus diletakan di atas kolam yang penuh air, Saturnus akan mengapung.
Saturnus memiliki periode rotasi selama 10 jam 14 menit waktu Bumi. Namun, Saturnus tidak merotasi dalam rata-rata yang konstan. Periode rotasi Saturnus tergantung dengan kecepatan rotasi gelombang radio yang dikeluarkan oleh Saturnus.
Saturnus memiliki 59 bulan, 48 di antaranya telah memiliki nama. Inti
Saturnus diperkirakan terdiri dari batuan padat. Atmosfer Saturnus
tersusun atas gas amonia dan metana.
Saturnus juga memiliki awan berbentuk heksagonal di bagian kutub utaranya.
Uranus: Si “Bola” yang Menggelinding, Bukan Seperti “Gasing”
Bentuk planet Uranus mirip dengan Bulan dengan permukaan berwarna hijau
dan biru. Atmosfer Uranus mengandung banyak "es" seperti air, amonia dan
metana, bersama dengan jejak hidrokarbon. Atmosfernya itu adalah
atmosfer yang terdingin dalam Tata Surya, dengan suhu terendah 49 K
(−224 °C).
Sumbu rotasi Uranus terletak pada sisinya dipandang dari bidang Tata
Surya, dengan kemiringan sumbu 97,77°. Ini memberinya perubahan musim
yang sama sekali tidak seperti planet utama lain. Karena sumbu rotasi
planet Uranus yang hampir pada bidang revolusinya mengelilingi Matahari,
menyebabkan kutub utara dan selatannya terletak pada tempat yang pada
banyak planet lain merupakan ekuator/garis khatulistiwa mereka.
Planet-planet lain dapat dibayangkan sebagai gasing yang berputar
termiring-miring relatif terhadap bidang tata surya, sementara Uranus berotasi lebih seperti bola yang menggelinding termiring-miring.
Uranus mengitari Matahari sekali dalam 84 tahun. Periode rotasi interior
Uranus adalah 17 jam, 14 menit. Akan tetapi, seperti semua raksasa gas
lainnya, atmosfer atasnya mengalami angin badai yang sangat kuat pada
arah rotasi. Akibatnya, pada beberapa garis lintang, seperti dua per
tiga lintang dari khatulistiwa ke kutub selatan, tampak bergerak jauh
lebih cepat, menjadikan rotasi penuhnya hanya 14 jam.
Kutub Uranus, salah satunya menghadap Matahari terus-menerus sedangkan
kutub lainnya menghadap ke arah sebaliknya. Tiap kutub terus-menerus
disinari Matahari sekitar 42 tahun, diikuti dengan 42 tahun yang gelap.
Uranus mempunyai sistem cincin planet yang rumit. Cincin-cincin tersebut
tersusun dari partikel yang sangat gelap, yang beragam ukurannya dari
mikrometer hingga sepersekian meter. Tiga belas cincin yang berbeda saat
ini diketahui, yang paling terang adalah cincin ε (epsilon). Rata-rata
cincin Uranus sangat sempit karena lebarnya hanya beberapa kilometer.
Neptunus: Si Hijau yang Terjauh
Neptunus merupakan planet terjauh
(kedelapan) jika ditinjau dari Matahari. Periode rotasi planet ini
adalah 16,1 jam, sedangkan periode revolusi adalah 164,8 tahun. Planet
Neptunus memiliki 8 buah satelit. Jika Neptunus dilihat dari teleskop,
tampak berwarna kehijau-hijauan.
Rabu, 28 Januari 2015
hukum archimedes
Hukum Archimedes adalah sebuah hukum tentang prinsip pengapungan diatas
benda cair yang ditemukan oleh Archimedes, seorang ilmuwan Yunani yang
juga merupakan penemu pompa spiral untuk menaikan air yang dikenal
dengan istilah Sekrup Archimede. Hukum Archimedes berhubungan dengan
gaya berat dan gaya ke atas suatu benda jika dimasukan kedalam air. Berikut ini adalah bunyi hukum Archimedes yang sangat terkenal itu.
Bunyi Hukum Archimedes
“Suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhya kedalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut”
|
Rumus Hukum Archimedes
FA = ρa x Va x g
| Keterangan: FA = Gaya keatas yang dialami benda (N) ρa= Massa Jenis zat cair (kg/m3) Va= Volume air yang terdesak (m3) g = Percepatan Gravitasi (m/det2) |
Berdasarkan bunyi dan rumus hukum Archimede diatas, suatu benda yang
akan terapung, tenggelam atau melayang didalam zat cair tergantung pada
gaya berat dan gaya keatas. Maka dari itu, berdasarkan hukum diatas,
terciptalah 3 hukum turunan dari Hukum Archimedes Yang Berbunyi:
1. Benda akan terapung jika massa jenis benda yang dimasukan kedalam air lebih kecil dari massa jenis zat cairnya
2. Benda akan melayang jika massa jenis benda yang dimasukan kedalam air sama dengan massa jenis zat cairnya
3. Benda akan tenggelam jika massa jenis benda yang dimasukan kedalam air lebih besar dari pada massa jenis zat cairnya.
Penerapan Hukum Archimedes :
1. Teknologi perkapalan seperti Kapal laut dan kapal Selam
Teknologi perkapalan merupakan contoh hasil aplikasi ata penerapan hukum
Archimedes yang paling sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Kapan laut terbuat dari besi atau kayu yang di buat berongga dibagian
tengahnya. Rongga pada bagian tengah kapal laut ini bertujuan agar
volume air laut yang dipindahkan badan kapal besar. Aplikasi ini
bedasarkan bunyi hukum Archimedes dimana gaya apung suatu benda
sebanding dengan banyaknya air yang dipindahkan. Dengan menggunakan
prinsip tersebut maka kapal laut bisa terapung dan tidak tenggelam.
Berbeda dengan kapal selam yang memang di kehendaki untuk bisa tenggelam
di air dan juga mengapung di udara. Untuk itu pada bagian tertentu dari
kapal selam di persiapkan sebuah rongga yang dapat menampung sejumlah
air laut yang bisa di isi dan di buang sesuai kebutuhan. Saat ingin
menyelam, rongga tersebut di isi dengan air laut sehingga berat kapal
selam bertambah. Sedangkan saat ingin mengapung, air laut dalam rongga
tersebut di keluarkan sehingga bobot kapal selam menjadi ringan dan
mampu melayang di permukaan.
2. Alat pengukur massa jenis (Hidrometer)
Hidrometer adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis
zat cair. Hidrometer merupakan contoh penerapan hukum Archimedes dalam
kehidupan sehari-hari yang paling sederhana. Cara kerja hidrometer merupakan realisasi bunyi hukum archimede,
dimana suatu benda yang dimasukan kedalam zat cair sebagian atau
keseluruhan akan mengalami gaya keatas yang besarnya sama dengan berat
zat cair yang dipindahkan.Jika hidrometer dicelupkan ke dalam zat cair,
sebagian alat tersebut akan tenggelam. Makin besar massa jenis zat cair,
Makin sedikit bagian hidrometer yang tenggelam. Seberapa banyak air
yang dipindahkan oleh hidrometer akan tertera pada skala yang terdapat
pada alat hidrometer.
3. Jembatan Poton
Jembatan poton adalah sebuah jembatan yang terbuat dari kumpulan
drum-drum kosong yang melayang diatas air dan diatur sedemikian rupa
sehingga menyerupai sebuah jembatan. Jembatan poton disebut juga
jembatan apung. Untuk bisa di jadikan sebagai jembatan, drum-drum
tersebut harus berada dalam kondisi kosong dan tertutup rapat sehingga
udara di dalam drum tidak dapat keluar dan air tidak dapat masuk
kedalam. Dengan cara itu berat jenis drum dapat diminimalkan sehingga bisa terapung di atas permukaan air
.
4. Teknologi Balon Udara
Balon udara adalah penerapan prinsip Archimedes di udara. Jadi ternyata
aplikasi hukum Archinedes tidak hanya berlaku untuk benda cair tetapi
juga benda gas. Untuk dapat terbang melayang di udara, balon udara harus
diisi dengan gas yang bermassa jenis lebih kecil dari massa jenis udara
atmosfer, sehingga, balon udara dapat terbang karena mendapat gaya
keatas, misalnya diisi udara yang dipanaskan. Udara yang dipanaskan
memiliki tingkat kerenggangan lebih besar daripada udara biasa. Sehingga
masa jenis udara tersebut menjadi ringgan.
cincin saturnus
When we have actually seen that great arch swung over the equator of the planet without any visible connection, we cannot bring our minds to rest.
James Clerk Maxwell (Adam Prize essay – 1857)
Keberadaan cincin Saturnus sebenarnya pertama kali telah diamati oleh Galileo pada tahun 1610. Namun saat itu, Galileo tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia amati, karena keterbatasan resolusi dan kualitas lensa teleskop yang digunakannya. Dengan teleskop sederhananya itu, Galielo mengamati adanya “pendamping” Saturnus yang selalu berada di samping planet tsb. Galileo lantas menyebut Saturnus sebagai planet kembar tiga, yang hampir bersinggungan, dan yang berada di tengah ukurannya sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan yang lainnya. Konfigurasi seperti ini tidak berubah sepanjang pengamatannya.
Ketika ia kembali mengamati planet Saturnus dua tahun kemudian, kedua “pendamping” Saturnus yang dua tahun sebelumnya selalu berada disamping Saturnus, tidak kelihatan lagi. Saturnus kelihatan hanya sebagai sebuah piringan sebagaimana penampakan Jupiter. Kemudian ketika ia mengamati Saturnus tahun 1616, kedua “pendamping” Saturnus tsb kembali dapat diamati, hanya saja penampakannya berbeda dengan penampakan ketika ia pertama kali mengamati kedua pendamping Saturnus tsb tahun 1610. Hal ini sempat membingungkan Galileo. Ia menuliskan bahwa pengetahuannya saat itu tidak bisa menjelaskan fenomena tsb. Galileo sendiri menyebutkan “pendamping” Saturnus itu sebagai “ansae”, yaitu pegangan pada cangkir (telinga cangkir).
Pengamatan oleh astronom lainnya setelah pengamatan pertama Galileo, memberikan berbagai bentuk sketsa Saturnus dan “pendampingnya”. Tentang apa dan bagaimana sebenarnya ansae (mengambil istilah Galileo) tsb, tidak ada penjelasan yang memuaskan.
Penjelasan yang memuaskan tentang apa dan bagaimana ansae, baru ada tahun 1656. Adalah Christiaan Huygen, seorang astronom Belanda, yang mengeluarkan teori bahwa apa yang selama ini disebut ansae oleh Galileo adalah sebuah sistem cincin atau piringan yang mengelilingi Saturnus dekat ekuatornya. Dan bahwa penampakannya yang berubah-ubah sepanjang waktu disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Saturnus terhadap bidang edarnya. Akibatnya, perubahan posisi Saturnus (relatif terhadap pengamat di Bumi) menyebabkan perubahan penampakan sistem cincin tsb. Meskipun detail teori dari Huygen ini banyak yang salah, tapi ide dasarnya bisa menjelaskan apa yang disebut ansae oleh Gaileo, dan mengapa penampakannya berubah dari masa ke masa. Dan penjelasan dari Huygen dengan cepat diterima oleh berbagai pihak.
Pengetahuan kita tentang cincin Saturnus ini semakin banyak dengan semakin banyaknya pengamatan dan teori-teori baru tentang bagaimana cincin Saturnus. Jean Chapelain pada tahun 1660 mengajukan ide bahwa cincin Saturnus bukanlah benda padat, tetapi merupakan kumpulan partikel-partikel yang secara bersama-sama mengelilingi Saturnus. Keberadaan sebuah celah yang memisahkan cincin Saturnus menjadi dua bagian, diamati oleh Jean-Dominique Cassini pada tahun 1676. Celah yang memisahkan bagian cincin yang lebih terang dengan yang lebih redup ini kemudian dikenal dengan nama Celah Cassini. Dengan penemuan Celah Cassini ini, ide bahwa cincin Saturnus merupakan kumpulan partikel yang bersama-sama mengelilingi Saturnus, mendapat dukungan luas. Dan akhirnya teori tentang cincin yang terdiri dari kumpulan partikel dan penjelasan bagaiman sistem seperti itu bisa ada, dikemukan oleh James Clerk Maxwell tahun 1857. Pengamatan-pengamatan berikutnya oleh berbagai astronom mendukung teori Maxwell ini. Bahkan dari pengamatan E. E. Barnard diketahui celah Cassinipun ternyata tidak kosong sama sekali.
Cincin Saturnus terdiri dari partikel berbagai ukuran. Mulai dari ukuran sebesar debu yang biasa kita temui di rumah-rumah, sampai sebesar truk. Kesemuanya bercampur membentuk sistem cincin. Partikel-partikel pembentuk cincin Saturnus ini diselimuti oleh es dan karenanyalah cincin ini mampu memantulkan sebagian besar cahaya yang diterimanya dari Matahari. Karena itu, cincin planet Saturnus kelihatan terang, berbeda dengan cincin planet raksasa gas lainnya.
Sistem cincin Saturnus merentang lebih dari 40.000 km. Sistem cincin ini amat tipis dibandingkan dengan lebarnya, hanya dalam orde puluhan meter. Sebagai ilustrasi, cincin Saturnus ibarat kertas tisu yang selebar lapangan sepak bola. Sebab mengapa cincin Saturnus bisa amat lebar dan sekaligus amat tipis, adalah karena gaya-gaya yang berkerja dalam cincin. Partikel-partikel penyusun cincin bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Semakin dekat partikel-partikel ini dengan planet Saturnus, kecepatan orbitnya semakin besar. Partikel-partikel ini saling mempengaruhi lewat tumbukan, dan dalam prosesnya, terjadi kehilangan energi. Akibatnya terjadi redistribusi momentum sudut yang menyebabkan partikel yang lebih dekat ke Saturnus akan semakin mendekat, sedangkan yang lebih jauh akan semakin menjauh. Dengan kata lain, terjadi proses pemipihan. Apapun bentuk awal sistem cincin, ia akan segera memipih dengan cepat.
Salah satu loncatan pengetahuan kita tentang cincin Saturnus terjadi pada era penjelajahan angkasa, ketika wahana luar angkasa mengamati Saturnus dari jarak dekat. Wahana yang mempelajari Saturnus dari jarak dekat adalah Pioneer 11, dan wahana kembar Voyager 1 dan Voyager 2. Dengan pengamatan dari jarak dekat ini, berbagai hal tentang cincin Saturnus bisa dikonfirmasi. Dan pengetahuan kita tentang cincin ini semakin banyak bertambah setelah sempat mandeg beberapa lama. Tapi dengan banyaknya hal-hal baru yang kita ketahui lewat wahana-wahana tsb, semakin banyak juga misteri baru timbul sehingga menambah menarik pembicaraan tentang cincin ini.
Pada tahun 2004, wahana Cassini tiba di Saturnus dan memulai petualangan 4 tahun mengorbit Saturnus. Salah satu misi yang diemban oleh Cassini adalah mempelajari cincin Saturnus. Berkaitan dengan misinya mempelajari cincin Saturnus, Cassini akan mempelajari konfigurasi dan dinamika cincin, mempelajari lebih detail partikel-partikel penyusun cincin dan interaksinya dengan satelit-satelit Saturnus.
Awal tahun 2008, kita dikejutkan dengan hasil perjalanan Cassini yang menemukan adanya gap dalam sup partikel energi tinggi di dekat orbit dua buah satelit kecil Saturnus. Penemuan ini mengindikasikan keberadaan “cincin sebagian” yang mengelilingi Saturnus. Yang menarik, cincin tersebut belum diketahui, bahkan tidak terlihat oleh Cassini. Penemuan ini menunjukan kalau materi yang membentuk cincin Saturnus tidak hanya berasal dari satelit-satelit besar di Saturnus tapi juga dikontribusikan oleh satelit-satelit kecil. Di masa depan, kita harapkan semakin banyak hal tentang cincin Saturnus ini akan terungkap.
saturnus
Saturnus adalah sebuah planet yang terletak di tata surya dimana planet ini terkenal sebagai planet bercincin. Jarak Saturnus sangat jauh dari Matahari. Karena itulah, Saturnus tampak tidak terlalu cerah dari Bumi. Saturnus berevolusi dalam waktu 29,46 tahun. Setiap 378 hari, Bumi, Saturnus, dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus. Selain berevolusi, Saturnus juga berrotasi dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 10 jam 14 menit.
Saturnus memiliki kerapatan yang rendah karena sebagian besar zat penyusunnya berupa gas dan cairan. Inti Saturnus diperkirakan terdiri dari batuan padat. Atmosfer Saturnus tersusun atas gas amonia dan metana. Hal ini tentu tidak memungkinkan adanya kehidupan di Saturnus.
Cincin Saturnus sangat unik. Ada beribu-ribu cincin yang mengelilingi planet ini. Bahan pembentuk cincin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berpendapat, cincin itu tidak mungkin terbuat dari lempengan padat karena akan hancur oleh gaya sentrifugal. Namun, tidak mungkin juga terbuat dari zat cair karena gaya sentrifugal akan mengakibatkan timbulnya gelombang. Jadi, sejauh ini, diperkirakan yang paling mungkin membentuk cincin-cincin itu adalah bongkahan-bongkahan es meteorit.
Hingga 2006, Saturnus diketahui memiliki 56 buah satelit alami. Tujuh diantaranya cukup masif untuk dapat runtuh berbentuk bola di bawah gaya gravitasinya sendiri. Mereka adalah Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, Titan (Satelit terbesar dengan ukuran lebih besar dari planet Merkurius), dan Iapetus.
Cincin Saturnus tersebut dapat dilihat dengan menggunakan teleskop modern berkekuatan serdahana atau dengan teropong berkekuatan tinggi. Cincin ini menjulur 6.630 km hingga 120.700 km atas khstulistiwa Saturnus, dan terdiri daripada bebatuan silikon dioksida, oksida besi, dan partikel es dan batu. Terdapat dua teori mengenai asal cincin Saturnus. Teori pertama diusulkan oleh Édouard Roche pada abad ke-19, adalah cincin tersebut merupakan bekas bulan Saturnus yang orbitnya datang cukup dekat dengan Saturnus sehingga pecah akibat kekuatan pasang surut. Variasi teori ini adalah bulan tersebut pecah akibat hantaman komet atau asteroid. Teori kedua adalah cicin tersebut bukanlan dari bulan Saturnus, tetapi ditinggalkan dari nebula asal yang membentuk Saturnus. Teori ini tidak diterima masa kini disebabkan cincin Saturnus dianggap tidak stabil melewati periode selama jutaan tahun, dan dengan itu dianggap baru terbentuk
revolusi industri inglen
Revolusi industri pertama kali terjadi di Inggris. Revolusi industri
adalah suatu perubahan secara cepat dari ekonomi pertanian ke ekonomi
industri. Revolusi industri di Inggris terjadi sesudah tahun 1830 yang
berlangsung hingga tahun 1870.
a. Adanya modal
Inggris pada abad ke-18 memiliki cukup modal untuk membangun
pabrik-pabrik, membayar pekerja dan membeli bahan mentah. Inggris
menjadi negara yang kaya akibat keuntungan yang diperoleh dari
perdagangan pada abad ke-17 dan 18. Selain itu perak dan emas yang
mengalir dari negeri jajahannya di India. Modal Inggris diperoleh juga
dari pertanian yang menggunakan teknik menanam baru yakni dengan sistem
menggilir, sebagian untuk tanaman rumput guna persediaan makanan ternak
pada musim dingin, sebagian lagi ditanami tanaman pokok.
b. Adanya tenaga kerja
Inggris memiliki tenaga kerja yang mendukung revolusi industri. Tenaga
kerja itu berasal dari Irlandia yang masuk ke Inggris. Juga dari daerah
pedesaan yang di tempat asalnya kehilangan mata pencaharian karena tanah
pertanian oleh golongan bangsawan dijadikan tanah peternakan. Arus
urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong
pemerintah Inggris untuk membuka industri lebih banyak agar dapat
menampung mereka. Banyaknya tenaga juga karena penduduk Inggris
meningkat dua kali lipat dari abad sebelumnya.
c. Penemuan mesin-mesin di Inggris
Pada abad ke-18 dan 19, Inggris mengalami kemajuan dalam bidang teknik.
Penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1796 merupakan unsur
penting dalam revolusi industri. Mesin uap tersebut digunakan untuk
mesin pabrik dan untuk memajukan pengangkutan.
Selain mesin uap ditemukan juga mesin pintal dan mesin-mesin lainnya
yang kesemuanya menjadi penyebab terjadinya revolusi industri, karena
dengan penggunaan mesin-mesin pada pabrik-pabrik, produksi barang
berlipat ganda dibanding menggunakan tenaga manusia. Akhirnya Inggris
mengalami kemajuan dalam bidang industri.
d. Inggris memiliki sumber bahan mentah
Inggris kaya akan bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah,
dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat menunjang industri
tekstil. Pada besi dan batu bara dilakukan efisiensi penggunaannya untuk
mendukung industri.
- Pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Perkembangan teknologi dan industri bertambah maju setelah dibentuknya lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge.
f. Inggris memiliki transportasi
Pembangunan jalan kereta api, alat transpor berupa kapal dan alat komunikasi juga mendukung industri Inggris.
g. Pasaran
Inggris memiliki daerah pasaran untuk hasil industrinya. India adalah
daerah jajahan yang menjadi pasaran hasil industri Inggris. Irlandia
juga disatukan dengan Inggris. Pasaran Inggris meliputi hampir seluruh
Eropa, Amerika Utara, Afrika, dan Asia Timur. Pada daerah-daerah
tersebut Inggris membuka hubungan dagang.
h. Sikap mental masyarakat Inggris
Menjelang revolusi industri, di Inggris tumbuh sikap mental masyarakat
yang mengutamakan sikap hemat, sehingga dapat menimbun modal.
- Terdapat keluarga Tudor yang mempunyai orientasi pembangunan ekonomi yang kuat.
- Terdapat tenaga ahli dari kota-kota industri seperti Paris. Mereka meninggalkan kotanya menuju Inggris karena terlibat perang agama yang menyebabkan mundurnya kehidupan ekonomi.
- Meluasnya sistem perbankan dan perkreditan.
- Pengusaha pemilik modal besar membuat persiapan ke arah pabrik, yakni manufactur sebagai langkah awal revolusi industri.
Hukum Mendel
Hukum mendel merupakan hukum hereditas
yang menjelaskan tetantang prinsip-prinsip penurunan sifat pada
organisme. Sebelum menjadi suatu hukum, banyak ahli biologi yang belum
mengakui pendapat atau teori mendel tentang hereditas. Pada tahun 1865,
mendel menulis sebuah makalah berjudul “ experiment in Plant
Hybridization”. Makalah tersebut berisi hasil percobaan
persilangan-perdilangan tanaman serta hipotetsisi mendel tentang
pewarisan material genetic dari induk (tertua) kepada anaknya.
Berdasarkan percobaan mendel,tersebut lahirlah konsep genetika adanya
factor yang menentukan sifat organisme.
Konsep mendel belum dapat diterima oleh
para ahli biologi pada waktu itu hingga muncul penemuan kromosom secara
mikroskopik yang mendukung teori mendel.
Hukum Pewarisan Mendel
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum
mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor
Johann Mendel dalam karyanya ‘Percobaan mengenai Persilangan Tanaman’.
Hukum ini terdiri dari dua bagian:
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum PertamaMendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa
pada pembentukan gamet, kedua gen yang merupakan pasangan alela itu akan
memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari alelanya.
Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter. Ini adalah konsep mengenai alel.
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan dan satu dari tetua betina.
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua
alel yang berbeda, alel dominan akan terekspresikan. Alel resesif yang
tidak terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk.
Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila
dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya
sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang
lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling
memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi
tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling memengaruhi.
Tiap sifat organisma hidup dikendalikan oleh sepasang “factor keturunan”. Pada waktu itu Mendel belummenggunakan istilah “gen”.
- Tiap pasangan faktor keturunan menunjukkan bentuk alternatif sesamanya, kedua bentuk alternatif disebut pasangan ALELA.
- Satu dari pasangam alela itu dominan dan menutup alela yang resesif bila keduanya ada bersama-sama.
- Pada pembentukan “gamet” alela akan
memisah, setiap gamet menerima satu faktor alela tersebut c dikenal
sebagai HUKUM PEMISAHAN MENDEL atau PRINSIP SEGREGASI SECARA BEBAS.
- INDIVIDU MURNI mempunyai dua alela yang
sama (homozigot), alel dominan diberi simbol huruf besar sedang alel
resesif huruf kecil.
- GENOTIP adalah komposisi faktor keturunan (tidak tampak secara fisik).
- FENOTIP adalah sifat yang tampak pada keturunan.
- Pada hibrida atau polihibrida berlaku PRINSIP BERPASANGAN SECARA BEBAS.
RATIO FENOTIP (F2) HIBRIDA NORMAL MENURUT MENDEL
Monohibrida 3: 1 (Hukum Dominasi penuh) n= 1, jumlah gamet = 2
Dihibrida 9: 3: 3: 1 n= 2, jumlah gamet = 4
Trihibrida 27: 9: 9: 9: 3: 3 : 3: 1 n= 3, jumlah gamet = 8
Polihibrida (3:1)n n= n, jumlah gamet = 2n
(n) = jenis sifat berbeda (hibridanya).
(n) = jenis sifat berbeda (hibridanya).
Intermediat 1 : 2 : 1 ——> sifat “SAMA DOMINAN”; percobaan pada bunga Antirrhinum majus.
Alel
Kromosom dalam sel tubuh biasanya
berpasangan. Sepasang kromosom merupakan homolog sesamanya. Artinya
mereka memiliki bentuk dan lokus gen yang sama. Sepasang gen yang
terdapat pada lokus yang sama pada kromosom yang homolog disebut ALEL.
Alel dapat memiliki fungsi sama, saling mendukung, ataupun berlawanan.
Contoh alel yang fungsinya sama adalah gen penentu warna merah pada
bunga (AA). Kedua pasangan gen (alel) tersebut membawa sifat yang sama,
yaitu merah (A). Karena fungsinya sama, maka disebut alel homozogot.
Contoh alel yang fungsinya tidak sama/berlawanan adalah gen penentu
warna merah muda (Aa). Kedua pasangan gen (alel) tersebut membawa sifat
yang tidak sama, yaitu ada yang membawa sifat merah (A) dan sifat putih
(a) sehingga timbul sifat intermedier. Karena fungsinya tidak sama, maka
disebut alel heterozogot.
Dari sudut pandang genetika klasik, alel
(dari bahasa Inggris allele) merupakan bentuk alternatif dari gen dalam
kaitan dengan ekspresi suatu sifat (fenotipe). Sebagai ilustrasi, suatu
lokus dapat ditempati gen yang mengatur warna kelopak bunga merah (alel
untuk bunga merah) dan juga alel untuk warna kelopak bunga putih (alel
untuk bunga putih). Pada individu, pasangan alel menentukan genotipe
dari individu yang bersangkutan.
Sejalan dengan perkembangan genetika, pengertian alel menjadi lebih
luas dan umum. Dalam arti modern, alel adalah berbagai ekspresi
alternatif dari gen atau seberkas DNA, tergantung tingkat ekspresi
genetik yang diamati.
Alel, versi yang kontras dari sebuah gen.
Gen untuk sebuah karakter khusus yang diwarisi, seperti warna bunga
pada kacang ercis terletak pada sebuah lokus atau posisi tertentu dalam
suatu keomosom tertentu pula. Alel-alel merupakan varien dari gen
tersebut. Mendel mengembangkan sebuah hipotetsis yang dapat kita rinci
kedalam 4 ide yang saling berhubungan. (kita akan mengganti beberapa
istilah mendel yang orisinil dengan istilah modern, contohnya, istilah
“gen” akan menggantikan istilah “factor yang dapat diturunkan”.
1. Versi alternative gen (alel-alel yang berbeda)
Menjelaskan terjadinya variasi pada
karakter yang diwarisi. Gen untuk warna bunga contohnya, hadir dalam dua
versi, satu untuk bunga ungu dan yang lain untuk bunga putih. Versi
alternative dari gen disebut alel.
2. Untuk setiap karakter, organisme mewarisi dua alel, satu dari masing-masing induk.
3. Jika kedua alel berbeda, maka salah
satunya, alel dominan, diekspresikan sepenuhnya dalam penampakan
organisme:alel satunya, alel resesif, tidak mempunyai efek yang jelas
pada penampakan organisme.
4. Kedua alel utnuk setiap karakter berpisah selama produksi gamet
Gen
Gen adalah unit pewarisan sifat bagi
organisme hidup. Bentuk fisiknya adalah urutan DNA yang menyandi suatu
protein, polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki fungsi bagi
organisme yang memilikinya. Batasan modern gen adalah suatu lokasi
tertentu pada genom yang berhubungan dengan pewarisan sifat dan dapat
dihubungkan dengan fungsi sebagai regulator (pengendali), sasaran
transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnya.
Penggunaan “gen” dalam percakapan
sehari-hari (misalnya “gen cerdas” atau “gen warna rambut”) sering kali
dimaksudkan untuk alel: pilihan variasi yang tersedia oleh suatu gen.
Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering menggunakan
istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik berbeda. Gen
diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses
reproduksi, bersama-sama dengan DNA yang membawanya. Dengan demikian,
informasi yang menjaga keutuhan bentuk dan fungsi kehidupan suatu
organisme dapat terjaga.
Gen bersifat antara lain :
- Sebagai materi tersendiri yang terdapat dalam kromosom.
- Mengandung informasi genetika.
- Dapat menduplikasikan diri pada peristiwa pembelahan sel.
Informasi yang terkode dalam bentuk
unit-unit herediter disebut gen. Gen adalah segmen-segmen DNA. Penurunan
sifat-sifat herediter memiliki basis molekuler yaitu replikasi persisi
dari DNA, dan menghasilkan salinan-salinan gen yang dapat diteruskan
dari orang tua ke keturunannya. Pada hewan dan tumbuhan , pengiriman gen
dari suatu generasi ke generasi selanjutnya ini dilakukan oleh sperma
dan ovum ( telur yang belum dibuahi ). Setelah sel sperma bersatu dengan
ovum ( sel telur tumggal ) maka gen dari kedua orang tuanya hadir di
dalam nucleus dari telur yang telah dibuahi tersebut. DNA dari suatu sel
eukariotik dibagi lagi menjadi kromosom di dalam nukleous tersebut.
Setiap spesies yang hidup mempunyai jumlah kromosom yang khas. Sebagai
contoh , manusia mempunyai 46 kromosom (terkecuali dalam sel
reproduktifnya ) . Setiap kromosom terdiri dari sebuah molekul DNA
tunggal yang panjang , yang tergulung secara rumit sehingga terikat
dengan berbagai jenis protein. Sebuah kromosom memiliki ratusan atau
ribuan gen , masing-masing merupakan bagian spesifik dari molekul DNA
tersebut. Lokasi spesif suatu gen disepanjang suatu kromosom disebut
lokus gen ( jamak , loci ) tersebut. Kelengkapan genetic kita terdiri
dari gen apa saja yang terdapat dalam kromosom yang diwaris oleh orang
tua kita.
Sejarah Gen
Gregor Mendel telah berspekulasi tentang
adanya suatu bahan yang terkait dengan suatu sifat atau karakter di
dalam tubuh suatu individu yang dapat diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Ia menyebutnya ‘faktor’. Oleh Hugo de Vries, konsep
yang serupa ia namakan pangen (baca: “pan-gen”) pada buku karangannya
Intracellular Pangenesis (terbit 1889). Belum membaca tulisan Mendel, de
Vries mendefinisikan pangen sebagai “partikel terkecil yang mewakili
satu penciri terwariskan”. Wilhelm Johannsen lalu menyingkatnya sebagai
gen dua puluh tahun kemudian. Pada 1910, Thomas Hunt Morgan menunjukkan
bahwa gen terletak di kromosom. Selanjutnya, terjadi ‘perlombaan’ seru
untuk menemukan substansi yang merupakan gen. Banyak penghargaan Nobel
yang kemudian jatuh pada peneliti yang terlibat dalam subjek ini.
Pada saat itu DNA sudah ditemukan dan
diketahui hanya berada pada kromosom (1869), tetapi orang belum
menyadari bahwa DNA terkait dengan gen. Melalui penelitian Oswald Avery
terhadap bakteri Pneumococcus (1943), serta Alfred Hershey dan Martha
Chase (publikasi 1953) dengan virus bakteriofag T2, barulah orang
mengetahui bahwa DNA adalah bahan genetik.
Pada tahun 1940an, George Beadle dan
Edward Tatum mengadakan percobaan dengan Neurospora crassa. Dari
percobaan tersebut, Beadle dan Tatum dapat menarik hipotesis bahwa gen
mengkode enzim, dan mereka menyimpulkan bahwa satu gen menyintesis satu
enzim (one gene-one enzyme theory). Beberapa puluh tahun kemudian,
ditemukan bahwa gen mengkode protein yang tidak hanya berfungsi sebagai
enzim saja, dan beberapa protein tersusun dari dua atau lebih
polipeptida. Dengan adanya penemuan-penemuan tersebut, pendapat Beadle
dan Tatum, one gene-one enzyme theory, telah dimodifikasi menjadi teori
satu gen-satu polipeptida (one gene-one polypetide theory).
Ekspresi gen
Proses penyeleksian mRNA.
Ekspresi gen adalah proses dimana
kode-kode informasi yang ada pada gen diubah menjadi protein-protein
yang beroperasi di dalam sel. Ekspresi gen terdiri dari dua tahap:
1. Transkripsi, proses pembuatan salinan RNA.
2. Translasi, proses sintesis polipeptida yang spesifik di dalam ribosom.
Proses transkripsi DNA menjadi mRNA dan
translasi mRNA menjadi sebuah polipeptida disebut dogma sentral (central
dogma). Dogma sentral berlaku pada prokariot dan eukariot. Namun, pada
eukariot ada tahap tambahan yang terjadi di antara transkripsi dan
translasi yang disebut tahap pre-mRNA. Tahap pre-mRNA adalah untuk
menyeleksi mRNA yang akan dikirim keluar nukleus untuk ditranslasikan di
ribosom. Ekson merupakan mRNA yang akan dikirim keluar nukleus untuk
ditranslasikan, sedangkan intron merupakan mRNA yang akan tetap berada
di dalam nukleus karena kemungkinan mRNA tersebut akan membentuk protein
yang tidak fungsional (tidak berguna) jika ditranslasikan. Intron
kemudian akan terurai kembali untuk membentuk rantai mRNA baru. Ketahui
pula bahwa beberapa kesalahan yang disebut mutasi dapat terjadi pada
proses ekspresi gen ini.
Kecepatan Cahaya
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elektromagnetik
yang bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter:
1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada
1/299,792,458 detik. Kecepatan cahaya adalah 299,792,458 meter per
detik.


Cahaya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Matahari adalah sumber cahaya utama di Bumi. Tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk membuat makanan.
Sifat-sifat cahaya ialah,
cahaya bergerak lurus ke semua arah. Buktinya adalah kita dapat melihat
sebuah lampu yang menyala dari segala penjuru dalam sebuah ruang gelap.
Apabila cahaya terhalang, bayangan yang dihasilkan disebabkan cahaya
yang bergerak lurus tidak dapat berbelok. Namun cahaya dapat dipantulkan .
Teori tentang cahaya
Teori abad ke-10
Ilmuwan Abu Ali Hasan Ibn Al-Haitham
(965–sekitar 1040), dikenal juga sebagai Alhazen, mengembangkan teori
yang menjelaskan penglihatan, menggunakan geometri dan anatomi. Teori
itu menyatakan bahwa setiap titik pada daerah yang tersinari cahaya,
mengeluarkan sinar cahaya ke segala arah, namun hanya satu sinar dari
setiap titik yang masuk ke mata secara tegak lurus yang dapat dilihat.
Cahaya lain yang mengenai mata tidak secara tegak lurus tidak dapat
dilihat. Dia menggunakan kamera lubang jarum sebagai contoh, yang
menampilkan sebuah citra terbalik. Alhazen menganggap bahwa sinar cahaya
adalah kumpulan partikel kecil yang bergerak pada kecepatan tertentu.
Dia juga mengembangkan teori Ptolemy tentang refraksi cahaya namun usaha Alhazen tidak dikenal di Eropa sampai pada akhir abad 16.
Teori Partikel
Isaac Newton menyatakan dalam Hypothesis of Light pada 1675 bahwa cahaya terdiri dari partikel halus (corpuscles) yang memancar ke semua arah dari sumbernya. Teori ini dapat digunakan untuk menerangkan pantulan cahaya, tetapi hanya dapat menerangkan pembiasan dengan menganggap cahaya menjadi lebih cepat ketika memasuki medium yang padat tumpat karena daya tarik gravitasi lebih kuat.
Teori Gelombang (atau Ray)
Christiaan Huygens menyatakan dalam abad
ke-17 yang cahaya dipancarkan ke semua arah sebagai ciri-ciri
gelombang. Pandangan ini menggantikan teori partikel halus. Ini
disebabkan oleh karena gelombang tidak diganggu oleh gravitasi, dan
gelombang menjadi lebih lambat ketika memasuki medium yang lebih padat.
Teori gelombang ini menyatakan bahwa gelombang cahaya akan
berinterferensi dengan gelombang cahaya yang lain seperti gelombang bunyi (seperti yang disebut oleh Thomas Young pada kurun ke-18), dan cahaya dapat dipolarisasikan.
Kelemahan teori ini adalah gelombang cahaya seperti gelombang bunyi,
memerlukan medium untuk dihantar. Suatu hipotesis yang disebut luminiferous aether telah diusulkan, tetapi hipotesis itu tidak disetujui.
Teori Elektromagnetik
Pada
1845 Faraday menemukan bahwa sudut polarisasi dari sebuah sinar cahaya
ketika sinar tersebut masuk melewati material pemolarisasi dapat diubah
dengan medan magnet.Ini adalah
bukti pertama kalau cahaya berhubungan dengan Elektromagnetisme. Faraday
mengusulkan pada tahun 1847 bahwa cahaya adalah getaran elektromagnetik
berfrekuensi tinggi yang dapat bertahan walaupun tidak ada medium.
Teori ini diusulkan oleh James Clerk Maxwell pada akhir abad ke-19,
menyebut bahwa gelombang cahaya adalah gelombang elektromagnet sehingga
tidak memerlukan medium untuk merambat. Pada permukaannya dianggap
gelombang cahaya disebarkan melalui kerangka acuan yang tertentu, seperti aether, tetapi teori relativitas khusus
menggantikan anggapan ini. Teori elektromagnet menunjukkan yang sinar
kasat mata adalah sebagian daripada spektrum elektromagnet. Teknologi
penghantaran radio diciptakan berdasarkan teori ini dan masih digunakan.
Kecepatan
cahaya yang konstan berdasarkan persamaan Maxwell berlawanan dengan
hukum-hukum mekanis gerakan yang telah bertahan sejak zaman Galileo,
yang menyatakan bahwa segala macam laju adalah relatif terhadap laju
sang pengamat. Pemecahan terhadap kontradiksi ini kelak akan ditemukan
oleh Albert Einstein.
Teori Kuantum
Teori ini di mulai pada abad ke-19 oleh Max Planck, yang menyatakan pada tahun 1900 bahwa sinar cahaya adalah terdiri dari paket (kuantum) tenaga yang dikenal sebagai photon. Penghargaan Nobel menghadiahkan Planck anugerah fisika pada 1918 untuk kerja-kerjanya dalam penemuan teori kuantum, walaupun dia bukannya orang yang pertama memperkenalkan prinsip asas partikel cahaya.
Teori Dualitas Partikel-Gelombang
Teori
ini menggabungkan tiga teori yang sebelumnya, dan menyatakan bahwa
cahaya adalah partikel dan gelombang. Ini adalah teori modern yang
menjelaskan sifat-sifat cahaya, dan bahkan sifat-sifat partikel secara
umum. Teori ini pertama kali dijelaskan oleh Albert Einstein pada awal abad 20, berdasarkan dari karya tulisnya tentang efek fotolistrik,
dan hasil penelitian Planck. Einstein menunjukkan bahwa energi sebuah
foton sebanding dengan frekuensinya. Lebih umum lagi, teori tersebut
menjelaskan bahwa semua benda mempunyai sifat partikel dan gelombang,
dan berbagai macam eksperimen dapat di lakukan untuk membuktikannya.
Sifat partikel dapat lebih mudah dilihat apabila sebuah objek mempunyai
massa yang besar.
Pada pada tahun 1924 eksperimen oleh Louis de Broglie menunjukan elektron
juga mempunyai sifat dualitas partikel-gelombang. Einstein mendapatkan
penghargaan Nobel pada tahun 1921 atas karyanya tentang dualitas
partikel-gelombang pada foton, dan de Broglie mengikuti jejaknya pada
tahun 1929 untuk partikel-partikel yang lain.
Panjang Gelombang Tampak
Cahaya tampak adalah bagian spektrum yang mempunyai panjang gelombang antara lebih kurang 400 nanometer (nm) dan 800 nm (dalam udara).
Rumus kecepatan-cahaya
v = λf,
Dimana λ adalah panjang gelombang, f adalah frekuensi, v adalah kecepatan cahaya. Kalau cahaya bergerak di dalam vakum, jadi v = c, jadi
c = λf,
di mana c adalah laju cahaya. Kita boleh menerangkan v sebagai

di mana n adalah konstan (indeks biasan) yang mana adalah sifat material yang dilalui oleh cahaya.
Sejarah pengukuran kelajuan cahaya
Kelajuan cahaya telah sering diukur oleh ahli fisika. Pengukuran awal yang paling baik dilakukan oleh Olaus Roemer (ahli fisika Denmark), dalam 1676. Beliau menciptakan kaedah mengukur kelajuan cahaya. Beliau mendapati dan telah mencatatkan pergerakan planet Saturnus dan satu dari bulannya dengan menggunakan teleskop. Roomer mendapati bahwa bulan tersebut mengorbit Saturnus sekali setiap 42-1/2 jam.
Masalahnya adalah apabila Bumi dan Saturnus berjauhan, putaran orbit
bulan tersebut kelihatan bertambah. Ini menunjukkan cahaya memerlukan
waktu lebih lama untuk samapai ke Bumi. Dengan ini kelajuan cahaya dapat
diperhitungkan dengan menganalisa jarak antara planet pada masa-masa
tertentu. Roemer mendapatkan angka kelajuan cahaya sebesar 227,000 kilometer per detik.
Mikel Giovanno Tupan memperbaiki hasil kerja Roemer pada tahun 2008. Dia menggunakan cermin berputar untuk mengukur waktu yang diambil cahaya untuk bolak-balik dari Gunung Wilson ke Gunung San Antonio di California.
Ukuran jitu menghasilkan kelajuan 299,796 kilometer/detik. Dalam
penggunaan sehari-hari, jumlah ini dibulatkan menjadi dan 300,000
kilometer/detik.
Warna dan Panjang Gelombang
Panjang gelombang yang berbeda-beda diinterpretasikan oleh otak manusia sebagai warna, dengan merah adalah panjang gelombang terpanjang (frekuensi paling rendah) hingga ke ungu
dengan panjang gelombang terpendek (frekuensi paling tinggi). Cahaya
dengan frekuensi di bawah 400 nm dan di atas 700 nm tidak dapat dilihat
manusia. Cahaya disebut sebagai sinarultraviolet pada batas frekuensi tinggi dan inframerah
(IR atau infrared) pada batas frekuensi rendah. Walaupun manusia tidak
dapat melihat sinar inframerah kulit manusia dapat merasakannya dalam
bentuk panas. Ada juga camera yang dapat menangkap sinar Inframerah dan
mengubahnya menjadi sinar tampak. Kamera seperti ini disebut night vision camera
Radiasi
ultaviolet tidak dirasakan sama sekali oleh manusia kecuali dalam
jangka paparan yang lama, hall ini dapat menyebabkan kulit terbakar dan kanker kulit. Beberapa hewan seperti lebah dapat melihat sinar ultraviolet, sedangkan hewan-hewan lainnya seperti Ular Viper dapat merasakan IR dengan organ khusus.
Langganan:
Postingan (Atom)









